Langsung ke konten utama

Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9)

Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Agung Praptapa

Kompetisi di dunia kerja semakin hari semakin ketat. Ada yang bilang jaman sekarang ini jaman very tight competition, atau kompetisi yang super ketat. Tidak puas dengan itu, ada yang kemudian menyebutnya dengan hypercompetition, atau kompetisi yang sudah luar biasa hebatnya, yang sudah pol-polan. Sudah gila-gilaan. Yang penting menang. Yang penting mendapatkan yang kita mau. Caranya bagaimana sudah tidak lagi menjadi pertimbangan. Ada yang nyogok, ada yang melacurkan diri, ada yang membunuh, ada yang pakai black magic, duh….”udah edan full” begitu mungkin kalau boleh meminjam istilah Mbah Surip. Gila-gilaan.

Untungnya,di tengah “kegilaan” kompetisi tersebut, masih ada orang yang memilih berkompetisi secara wajar, fair, berdasarkan kompetensi dan prestasi. Kompetisi ya kompetisi, namun pakai cara yang baik dong. Mau menang ya boleh saja, semua orang juga pingin menang, tapi yang fair dong. Kalu menang ya harus elegan. Kalau bisa, kita win-win saja lah. I’m happy, you are happy (ini dalam konotasi positif loh ya…). Tapi kalau memang harus ada yang kalah, kita tetap harus menjaga martabat yang kalah.

Kearifan local jawa mengajarkan kita agar dalam berkompetisi
... baca selengkapnya di Menjadi Pemenang Sejati (Local Wisdom 9) Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Detektif Kaca

Telah kuperhatikan kaca itu, penuh retakan, dan ku lihat bayanganku tak sempurna. Tercipta di otak ku rasa keingintahuan akan retakan kaca itu. Ku selalu ingin tahu apa dan bagaimana kaca itu sampai menciptakan retakan. Entah kaca rumah, kaca cermin, kaca jendela tetangga, kaca spion motor, dan masih banyak lagi. Tak jarang orang mengatakanku kurang kerjaan atau kelenjehan atau semacamnya. Tapi memang sangat sulit kuhilangkan rasa penasaran, dan semua cemohan itu aku abaikan. “Pak, pak. Boleh tahu gak, kenapa kaca itu bisa retak? “Maaf, saya gak tahu lo mas!” “Oh, ya sudahlah, makasih ya pak” jawabku kepada seorang kondektur kereta. Masih ku tatap kaca itu. Ku duduk disampingnya, di kursi penumpang kereta yang sederhana. Sejuta misteri terkandung di retakan itu. Terus kuperhatikan saja. Kereta masih terus berjalan, masih ku berusaha cari narasumber. Ku lihat penumpang kereta yang duduk tepat disampingku wajahnya pun mengundang seribu pertanyaan. Ini sudah setengah perjalanan, kuper...

Hidupku Tak Sepahit Jamu Ibuku

Tak ada yang istimewa dalam hidup Rofan. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai seorang kakak perempuan, satu adik cewek dan satu adik cowok. Kakak perempuannya sudah memiliki keluarga. Kini, ia sudah kelas 3 STM. Tapi, pikirannya justru terus memikirkan kemanakah kakinya akan melangkah demi uang untuk membantu ibunya. Ia pasti tak tega melihat kedua orang tuanya bekerja keras demi menyekolahkan kedua adiknya. Rofan tahu bagaimana besar perjuangan kedua orang tuanya demi menyekolahkan ia dan juga adik-adiknya. Setelah lulus nanti, ia ingin bekerja agar bisa membantu keuangan keluarganya. Ibunya hanya penjual jamu, sedangkan ayahnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Dari situlah keinginannya begitu besar tertanam dalam hatinya. “Aku harus bisa membahagiakan kedua orang tuaku dan juga adik-adikku. Aku tak ingin hidupku kelak dengan anak dan istriku seperti apa yang aku alami sekarang dengan kedua orang tua dan juga adik-adikku. Tapi, aku bukannya tidak bersyukur d...

Bertemu Dengan Tuhan

Beberapa hari yang lampau saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di salah satu hotel bintang lima di pusat kota Amsterdam, maka dari itu saya harus melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu disitu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan "Selamat pagi Tuan!", saya menoleh kebelakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil dan bau alkohol rupanya ia sudah ber-minggu2 tidak mandi. Pakaiannya pun bau dan kotornya sudah tak terlukiskan lagi. Pengemis ini sedang memegang cangkir besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya "Maukah Bapak minum seteguk dari air kopi saya?" Dalam hati saya jangankan minum dari cangkirnya dekat dengan diapun rasanya sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan jangutnya yang masih penuh dengan sisa2 makanan dari kemarin. Disamping itu kalau saya minum dari cangkir bekas dia, jangan2 nanti saya akan ketularan penyakit AIDS? Logika dan otak saya melarang saya untuk ...