Langsung ke konten utama

Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku

Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DENDAM MANUSIA PAKU

GEROBAK yang ditarik kuda cokelat tinggi besar itu meluncur kencang di jalan kecil menurun berbatu-batu. Lelaki berewok bertelanjang dada berbadan kokoh penuh otot dan memiliki cuma satu mata, menarik tali kekang kuda kuat-kuat. Tapi kuda itu tidak bisa dikendalikan lagi. Semakin ditahan tali kekang, semakin kencang kuda menggerakkan kakinya. Di sebuah tikungan, gerobak hampir terbalik, pengemudinya nyaris terlempar.
"Kuda jahanam! Aku memang ingin cepat sampai! Tapi tidak mau celaka!" teriak lelaki bermata satu. Kembali dia tarik tali kekang. Kepala kuda penarik gerobak tersentak ke belakang. Dari hidungnya dan mulutnya keluar cairan berbusa. Binatang ini meringkik keras.

Tapi sama sekali tidak berhenti.

Di balik tikungan, jalan semakin menurun, tambah sempit dan batu-batu besar bergelimpangan menyembul ke permukaan tanah. Beberapa puluh tombak di bawah tampak Waduk Selorejo. Dalam musim kemarau panjang. Dalam musim kemarau panjang waduk itu tak lebih dari sebuah lembah dalam berlumpur ditumbuhi semak belukar dan pepohonan liar serta tebing batu.

"Binatang jahannam ini benar-benar tidak mau berhenti! Sebentar lagi gerobak pasti meluncur ke lembah. Aku tidak mau celaka, edan!"

Lelaki di atas gerobak pergunakan tangan ki
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Detektif Kaca

Telah kuperhatikan kaca itu, penuh retakan, dan ku lihat bayanganku tak sempurna. Tercipta di otak ku rasa keingintahuan akan retakan kaca itu. Ku selalu ingin tahu apa dan bagaimana kaca itu sampai menciptakan retakan. Entah kaca rumah, kaca cermin, kaca jendela tetangga, kaca spion motor, dan masih banyak lagi. Tak jarang orang mengatakanku kurang kerjaan atau kelenjehan atau semacamnya. Tapi memang sangat sulit kuhilangkan rasa penasaran, dan semua cemohan itu aku abaikan. “Pak, pak. Boleh tahu gak, kenapa kaca itu bisa retak? “Maaf, saya gak tahu lo mas!” “Oh, ya sudahlah, makasih ya pak” jawabku kepada seorang kondektur kereta. Masih ku tatap kaca itu. Ku duduk disampingnya, di kursi penumpang kereta yang sederhana. Sejuta misteri terkandung di retakan itu. Terus kuperhatikan saja. Kereta masih terus berjalan, masih ku berusaha cari narasumber. Ku lihat penumpang kereta yang duduk tepat disampingku wajahnya pun mengundang seribu pertanyaan. Ini sudah setengah perjalanan, kuper...

Hidupku Tak Sepahit Jamu Ibuku

Tak ada yang istimewa dalam hidup Rofan. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai seorang kakak perempuan, satu adik cewek dan satu adik cowok. Kakak perempuannya sudah memiliki keluarga. Kini, ia sudah kelas 3 STM. Tapi, pikirannya justru terus memikirkan kemanakah kakinya akan melangkah demi uang untuk membantu ibunya. Ia pasti tak tega melihat kedua orang tuanya bekerja keras demi menyekolahkan kedua adiknya. Rofan tahu bagaimana besar perjuangan kedua orang tuanya demi menyekolahkan ia dan juga adik-adiknya. Setelah lulus nanti, ia ingin bekerja agar bisa membantu keuangan keluarganya. Ibunya hanya penjual jamu, sedangkan ayahnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Dari situlah keinginannya begitu besar tertanam dalam hatinya. “Aku harus bisa membahagiakan kedua orang tuaku dan juga adik-adikku. Aku tak ingin hidupku kelak dengan anak dan istriku seperti apa yang aku alami sekarang dengan kedua orang tua dan juga adik-adikku. Tapi, aku bukannya tidak bersyukur d...

Bertemu Dengan Tuhan

Beberapa hari yang lampau saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di salah satu hotel bintang lima di pusat kota Amsterdam, maka dari itu saya harus melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu disitu. Tiba-tiba saya mendengar panggilan "Selamat pagi Tuan!", saya menoleh kebelakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil dan bau alkohol rupanya ia sudah ber-minggu2 tidak mandi. Pakaiannya pun bau dan kotornya sudah tak terlukiskan lagi. Pengemis ini sedang memegang cangkir besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya "Maukah Bapak minum seteguk dari air kopi saya?" Dalam hati saya jangankan minum dari cangkirnya dekat dengan diapun rasanya sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan jangutnya yang masih penuh dengan sisa2 makanan dari kemarin. Disamping itu kalau saya minum dari cangkir bekas dia, jangan2 nanti saya akan ketularan penyakit AIDS? Logika dan otak saya melarang saya untuk ...